Pria Paruh Baya Asal Bandung Stok 150 Layangan
3 mins read

Pria Paruh Baya Asal Bandung Stok 150 Layangan

Seorang pria paruh baya asal Bandung menarik perhatian warga saat mengadu stok 150 layangan di BKT Jakarta Timur.

Kisah Unik di Langit BKT Jakarta Timur

Pemandangan langit di kawasan Banjir Kanal Timur (BKT) Jakarta Timur akhir pekan lalu tampak berbeda. Puluhan layangan berwarna-warni menghiasi udara, menarik perhatian banyak warga yang lewat. Di balik keramaian itu, ada sosok pria paruh baya asal Bandung yang menjadi pusat perhatian — ia datang dengan membawa stok hingga 150 layangan untuk diadu bersama komunitas setempat.

Frasa kunci “pria paruh baya asal Bandung” dan “150 layangan diadu di BKT Jaktim” muncul di awal artikel untuk memperjelas fokus pembahasan dan optimasi SEO.


Dari Hobi Lama Jadi Tradisi Tak Tergantikan

Pria tersebut, yang akrab disapa Pak Asep, mengaku sudah menekuni hobi layangan sejak usia remaja di Bandung. Baginya, bermain layangan bukan sekadar hiburan, tetapi juga cara menjaga tradisi dan mempererat persaudaraan antarpecinta hobi serupa.

“Kalau lagi senggang, saya bikin sendiri layangannya. Ada yang dari plastik, ada juga dari kertas Jepang. Totalnya sekarang ada 150 yang siap diadu,” ujar Pak Asep sambil tersenyum bangga.

Ia datang ke Jakarta untuk mengikuti acara adu layangan yang digelar komunitas di sekitar BKT. Meski usianya tak muda lagi, semangatnya tetap membara ketika melihat layangan-layangannya bertarung di udara.


Adu Layangan, Olahraga Sekaligus Hiburan

Bagi sebagian orang, adu layangan mungkin terdengar seperti permainan anak-anak. Namun bagi para penggemarnya, kegiatan ini justru memiliki teknik, strategi, dan nilai seni tersendiri.

Pak Asep menjelaskan bahwa setiap layangan memiliki karakter berbeda — ada yang kuat di angin kencang, ada pula yang gesit untuk menebas tali lawan. Ia bahkan merancang bentuk dan tali layangan dengan presisi agar bisa unggul di pertandingan.

“Kalau sudah di atas, itu bukan cuma soal siapa yang kuat, tapi siapa yang bisa membaca arah angin dan waktu potong,” tambahnya dengan antusias.


Menarik Perhatian Warga Sekitar

Kehadiran Pak Asep dan puluhan peserta lainnya membuat suasana di BKT semakin meriah. Banyak warga sekitar yang berhenti untuk menonton, bahkan anak-anak tampak kagum melihat warna-warni layangan menghiasi langit sore.

Beberapa pengunjung mengaku kegiatan semacam ini membawa suasana nostalgia. “Dulu waktu kecil sering main layangan, sekarang bisa lihat lagi di Jakarta, rasanya senang banget,” ujar salah satu warga.


Melestarikan Hobi Tradisional di Era Modern

Bagi Pak Asep, adu layangan bukan hanya soal menang atau kalah. Ia berharap kegiatan seperti ini bisa terus dilestarikan agar generasi muda mengenal budaya tradisional Indonesia yang mulai jarang terlihat.

“Sekarang anak-anak lebih sering main gadget. Padahal main layangan itu seru, bisa bareng teman, bisa olahraga juga,” ucapnya.

Ia pun berencana untuk terus membuat layangan baru dan mengadakan pertandingan kecil di berbagai daerah. Menurutnya, selama masih ada angin dan ruang terbuka, hobi ini tidak akan pernah mati.


Penutup

Kisah pria paruh baya asal Bandung dengan 150 layangan di BKT Jaktim ini menjadi contoh nyata bahwa semangat dan kecintaan terhadap tradisi bisa menyatukan berbagai kalangan. Di tengah derasnya arus modernisasi, permainan sederhana seperti layangan tetap mampu menghadirkan kebahagiaan dan kebersamaan.

Baca Juga Artikel Lainnya Disini